Kamis, 23 Februari 2012

BAB II PEMBAHASAN

BAB II
PEMBAHASAN

Empat puluh persen dari wilayah Jakarta terutama di sisi utara berada lebih rendah dari permukaan air laut saat pasang tinggi dan terdapat 13 sungai mengalir melalui kota Jakarta. Jakarta menjadi daerah rawan banjir selama musim hujan, terutama saat hujan turun deras yang dapat menyebabkan air sungai melimpah. Resiko banjir menjadi sangat tinggi ketika hujan deras bertepatan dengan tingginya air pasang di laut. Namun selain daripada itu, terdapat alasan lain yang disebabkan oleh kegiatan manusia yang memperbesar kemungkinan atau memperparah terjadinya banjir di Jakarta:
• Pembangunan perumahan dan komersil di sekitar bantaran sungai menyebabkan aliran sungai dan kanal terhambat misalnya oleh bangunan-bangunan seperti jembatan atau pipa;
• Cara pengangkutan dan pengelolaan sampah yang kurang tepat, dan kebiasaan orang membuang sampah sembarangan menyebabkan penimbunan sampah di sungai-sungai;
• Tidak tertatanya saluran drainase yang berfungsi untuk menyalurkan air hujan dan mengalirkannya keluar daerah hunian;
• Kurangnya lahan hijau untuk menyerap air hujan dan penebangan hutan di Bogor dan Puncak yang merusak daerah tangkapan hujan.
Menurut UNESCO (2007), kemungkinan terjadinya banjir di daerah perkotaan semakin besar karena:
• Dibangunnya permukiman di daerah dataran banjir dan bantaran sungai:
Bermukim terlalu dekat dengan sungai berisiko terkena banjir akibat limpahan air sungai. Oleh karena itu, sebaiknya masyarakat sebaiknya tidak membangun rumah mereka di daerah bantaran sungai untuk memberikan tempat untuk sungai untuk melimpah.
• Pembabatan tetumbuhan alami:
a) Pepohonan dan semak belukar dapat membantu memperkuat daerah bantaran sungai. Apabila tetumbuhan alami di sekitar sungai ditebang, maka tanah di sekitarnya akan lebih mudah terkikis dan terbawa air ke sungai. Tanah ini akan mengendap dan menyebabkan pendangkalan sungai. Hal ini akan mengurangi jumlah air yang dapat ditampung di dalam sungai. Air yang tadinya dapat ditampung di dalam sungai (ketika sungai masih dalam) kini berpotensi untuk membanjiri daerah di sekitar sungai.
b) Tanah yang ditumbuhi oleh tanaman dapat menyerap air dalam jumlah yang lebih banyak. Apabila semak-semak dan pohon ditebang, air hujan tidak dapat terserap ke dalam tanah sehingga dapat menggenangi lahan. Selain itu banjir dari air yang tidak terserap tadi dapat mengikis tanah yang tidak terlindungi oleh tumbuhan dan membawa sejumlah lumpur ke sungai. Jumlah air yang mengalir ke sungai semakin besar karena tidak dapat diserap oleh tumbuhan atau terserap ke dalam tanah. Air yang dapat ditampung oleh sungai berkurang karena pendangkalan, sehingga limpahan air yang keluar dari sungai semakin besar. Hal ini memperbesar kemungkinan terjadinya banjir.
• Permukaan yang dilapis (disemen, diaspal dan lain-lain):
Permukaan yang dilapis, seperti jalan atau lapangan parkir tidak dapat menyerap air hujan. Perkebunan atau hutan yang diubah menjadi jalan, lapangan parkir, atau tempat tinggal, akan kehilangan kemampuannya untuk menyerap air hujan. Ketika hujan, air yang tidak terserap akan mengalir di atas tanah akan menggenangi jalan dan dengan cepat mengalir ke daerah yang lebih rendah. Hal ini akan memperbesar kemungkinan terjadinya banjir bandang yang datang dengan tiba-tiba.
• Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya:
Sampah yang dibuang ke sungai dan selokan, akan mengurangi kapasitas sungai untuk menampung air hujan. Sungai atau selokan yang tersumbat oleh sampah dapat menyebabkan air melimpah keluar. Selain itu, sampah akan mencemari air sungai dan akan menyebabkan timbulnya penyakit apabila air yang tercemar tersebut digunakan untuk makan dan minum.
Bencana banjir di DKI Jakarta pada awal tahun 2002 yang lalu memang luar biasa. Pada tanggal 1 Februari misalnya, tinggi air yang menggenangi kelima wilayah DKI Jakarta mencapai 175 – 250 cm. Dua minggu kemudian ternyata ketinggian air belum juga surut secara berarti. Di Jakarta Pusat berkisar antara 10 – 30 cm, di Jakarta Utara antara 20 – 160 cm, di Jakarta Barat antara 10 – 210 cm, di Jakarta Selatan antara 20 – 150 cm, dan di Jakarta Timur antara 10 – 150 cm. Survei cepat yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar responden (64%) daerahnya terendam air setinggi di atas 100 cm. Sebagian besar (79%) menyatakan bahwa genangan air terjadi selama lebih dari tujuh hari.
Banjir telah menyebabkan terjadinya pengungsian masyarakat secara besar-besaran. Berdasarkan catatan Badan Litbangkes jumlah pengungsi sebanyak 381.296 orang. Memang, jumlah pengungsi ini berangsurangsur menyusut seiring dengan menyusutnya genangan air. Banjir telah pula mengakibatkan banyak kerugian, baik material maupun jiwa. Sebanyak 300.000 jiwa kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, 75 orang meninggal dunia akibat berbagai sebab. Mulai dari hanyut di sungai, tenggelam, tersengat listrik, terkena penyakit muntaber, diare, dan demam berdarah. Sedangkan kejadian banjir pada tahun 2007 sekitar 146 ribu rumah penduduk di wilayah Jabodetabek yang terganggu, dengan kondisi rusak ringan, rusak berat atau hilang karena hanyut tersapu banjir. Orang–orang yang kehilangan sanak saudara dan teman-teman, ratusan orang yang harus meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi dan ratusan orang menderita sakit karena penyakit bawaan air setelah banjir (korban jiwa 80 orang dan pengungsi 381 orang (BAPEDA DKI Jakarta, 2007).
Kerusakan fisik selain rumah masyarakat yang terjadi akibat banjir tahun 2002 antara lain sekolah, tempat peribadatan, maupun sarana umum. Jumlah bangunan sekolah yang rusak mencapai lebih dari 300 buah. Sarana ibadah yang rusak mencapai sekitar 175 buah. Perkantoran yang rusak lebih kurang 50 buah (sebagian besar Kantor Kelurahan). Sedangkan sarana kesehatan yang rusak atau terendam air mencapai sekitar 50 buah (sebagian besar Puskesmas). Kerugian material lain berupa rusaknya taman-taman, termasuk kebun-kebun bibit berikut peralatannya, yang ditaksir mencapai lebih dari Rp. 4 milyar. PDAM juga menderita kerugian secara langsung maupun tidak langsung hingga sebesar lebih dari Rp. 1 milyar. Ironisnya lagi, musibah banjir ini justru dilengkapi dengan musibah kebakaran. Kebakaran terjadi terutama di tiga tempat, yaitu di Bendungan Jago (Jakarta Pusat), di Kramat Pulo (Jakarta Pusat), dan di Kebon Pisang (Jakarta Utara). Kebakaran ini diduga akibat hubungan pendek (korsluiting) listrik.
Sesungguhnya masih banyak kerugian yang diderita masyarakat Jakarta dengan terjadinya banjir besar awal tahun 2002 dan tahun 2007. Kerugian yang tidak kasat mata tetapi terasakan adalah tekanan jiwa akibat berhari-hari berada dalam keadaan tidak menentu. Sedangkan kerugian yang selanjutnya menjadi urusan para petugas kesehatan adalah meningkatnya masalah kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan pada saat dan pasca banjir, Yayasan IDEP (2007) menjabarkan dampak kesehatan yang terjadi di masyarakat, antara lain :
1. Ancaman wabah penyakit setelah banjir - Pada saat dan sesudah banjir, ada beberapa tempat yang bisa menyebabkan tersebarnya penyakit menular, seperti: tempat pembuangan limbah dan tempat sampah yang terbuka, sistem pengairan yang tercemar dan sistem kebersihan yang tidak baik. Bakteri bisa tersebar melalui air yang digunakan masyarakat, baik air PAM maupun airsumur yang telah tercemar oleh air banjir. Air banjir membawa banyak bakteri, virus, parasit dan bibit penyakit lainnya, termasuk juga unsur-unsur kimia yang berbahaya.
2. Penyakit Diare - diare mempunyai masa pertumbuhan antara 1 - 7 hari. Ikuti petunjuk-petunjuk kebersihan di bawah ini untuk menghindari risiko terjangkit Diare. Orang yang terjangkit penyakit ini harus mendapatkan perawatan khusus karena apabila dibiarkan terlalu lama bisa terancam, khususnya pada orang tua dan anak-anak.
3. Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk - banjir bisa meningkatkan perkembangbiakan nyamuk secara luas. Bibit-bibit penyakit yang dibawa oleh serangga ini termasuk Demam Berdarah, Malaria, dan lain-lain. Untuk mencegah sebuah tempat menjadi sarang nyamuk, kosongkan air yang tergenang dan tutup tempat-tempat air yang terbuka.
4. Unsur-unsur Kimia seperti pestisida, pupuk kimia dan unsur-unsur dengan bahan dasar minyak bisa mencemari sumber air dan membawa risiko.

Beberapa jam pertama pada saat bencana misalnya saat terjadinya banjir besar adalah waktu yang paling kritis bagi masyarakat. Tindakan cepat dan terkoordinasi (yang telah direncanakan secara berhati-hati sebelumnya) ditambah dengan pengetahuan yang baik tentang masyarakat dan lingkungan adalah hal terpenting dalam mengurangi dampak banjir pada masyarakat, harta benda dan lingkungan. Penanggulangan banjir tentu saja membutuhkan partisipasi masyarakat. Hanya masyarakat itu sendiri yang mampu mengidentifikasi kebutuhan dan mengetahui urutan prioritasnya. Hanya mereka yang paling mampu dalam menjabarkan masalah-masalah yang ada serta melakukan tindakan responsif berdasarkan sumber daya dan kapasitas lokal yang tersedia, sehingga penanggulangan banjir dapat direncanakan dan diterapkan secara efektif, karena:
• Tidak ada yang lebih mengerti kesempatan dan hambatan setempat selain masyarakat itu sendiri;
• Tidak ada yang lebih tertarik untuk memahami bagaimana bertahan hidup dalam kondisi yang terancam daripada masyarakat itu sendiri;
• Masyarakat akan mengalami banyak kerugian apabila mereka tidak dapat merumuskan keterbatasan mereka dan mengatasinya, namun masyarakat juga akan banyak memperoleh keuntungan apabila mereka dapat mengurangi dampak banjir;
• Masyarakat yang mandiri dapat membantu pemerintah dalam mengatasi banjir di daerah.
Menurut Deputi Bidang Sarana dan Prasarana (2002) bahwa partisipasi masyarakat merupakan proses teknis untuk memberi kesempatan dan wewenang lebih luas kepada masyarakat, agar masyarakat mampu memecahkan berbagai persoalan bersama-sama. Pembagian kewenangan ini dilakukan berdasarkan tingkat keikutsertaan (level of involvement) masyarakat dalam kegiatan tersebut. Partisipasi masyarakat bertujuan untuk mencari solusi permasalahan lebih baik dalam suatu komunitas, dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk memberi kontribusi sehingga implementasi kegiatan berjalan lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Partisipasi masyarakat harus dilakukan secara terorganisasi dan terkoordinasi agar dapat terlaksana secara efektif. Sebuah organisasi masyarakat sebaiknya dibentuk untuk mengambil tindakan-tindakan awal dan mengatur peran serta masyarakat dalam penanggulangan banjir. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi banjir sekaligus mengurangi dampaknya. Organisasi masyarakat semacam ini telah dibentuk dengan sukses di beberapa daerah di Jakarta, misalnya di Kelurahan Bidara Cina (UNESCO,2007). Organisasi masyarakat ini akan banyak berperan sebelum, ketika dan setelah terjadinya banjir. Peran utama organisasi ini adalah:
• Menghimbau masyarakat untuk membentuk tim kerja yang didasarkan atas semangat gotong royong.
• Menyatukan organisasi-organisasi, partai-partai, dan kelompok-kelompok (ka rang taruna, PKK dan organisasi keagamaan) untuk memberikan perhatian lebih dan berperan lebih aktif dalam menghindari banjir.
• Menjalin hubungan yang baik dengan pihak-pihak lain seperti LSM dan institusi pemerintahan untuk mendukung masyarakat secara menyeluruh.
• Menerima pelatihan dari institusi pemerintahan atau LSM untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan yang baik dalam menghadapi banjir dengan efektif. Organisasi masyarakat tersebut akan menyampaikan pengetahuan dan kemampuan yang mereka dapatkan dari pelatihan kepada anggota masyarakat lainnya atau menerapkannya langsung.
• Bekerjasama dengan organisasi-organisasi atau individu-individu di luar masyarakat yang memberikan bantuan dan fasilitas-fasilitas, seperti dapur umum, makanan, dan-lain-lain. Organisasi masyarakat ini diharapkan mampu mengetahui kebutuhan masyarakat dan mengkoordinasikannya dalam kegiatan terkait, sehingga menghemat dana masyarakat. Dana tersebut dapat dipergunakan untuk kegiatan lainnya.
Organisasi masyarakat seperti ini sangat penting untuk membangun kemampuan masyarakat dalam mengatasi bencana seperti banjir. Dengan bantuan organisasi ini, masyarakat dapat melakukan tindakan-tindakan penting secara terkoordinasi pada waktu yang tepat ketika banjir. Selain itu, masyarakat juga akan terdorong untuk bereaksi dengan cepat, efisien, dan praktis, sehingga sumber daya masyarakat dapat digunakan secara ekonomis. Organisasi masyarakat ini dapat berupa organisasi baru yang sengaja dibentuk, ataupun berasal dari organisasi yang telah ada, seperti Satgas banjir, namun tugas dan anggotanya dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan. Organisasi ini sebaiknya dibentuk di tingkat RW agar dapat bekerja dengan efektif dan melayani anggota masyarakat dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Untuk mengurangi potensi dampak buruk dari banjir secara efektif, masyarakat harus memiliki komitmen untuk melakukan kegiatan-kegiatan penanggulangan banjir melalui tahapan sebagai berikut:


Tahapan-tahapan dan kegiatan yang terkait didalamnya berhubungan satu sama lain dan harus dilaksanakan secara bertahap dan terus menerus. Kegiatan tersebut bukanlah serangkaian kegiatan yang dimulai seketika sebelum banjir dan berakhir setelah terjadinya banjir. Sebagai contoh:
• Persiapan untuk melakukan tahapan tindakan gawat darurat harus disusun beberapa bulan sebelum musim hujan. Hal ini mencakup pembentukan sistem peringatan atau melakukan sosialisasi tentang jalur evakuasi dan lokasi tempat pengungsian. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penanganan dan evakuasi korban banjir dilakukan secara efektif dan tepat waktu.
• Kesuksesan kegiatan penanganan banjir seperti pencarian dan penyelamatan korban (Search and Rescue atau SAR), atau pengungsian, tergantung pada perencanaan yang hati-hati dan penerapan kegiatan kesiapsiagaan dan mitigasi terhadap banjir.
• Dalam rehabilitasi dan rekonstruksi setelah banjir, perhatian harus ditekankankembali kepada kesiapsiagaan dan mitigasi banjir. Sebagai contoh, rumah-rumah sebaiknya dibangun sebagai rumah tahan banjir dengan dan memperhaiki sistem drainase, dan lain-lain.
UNESCO (2007) telah dapat merumuskan langkah-langkah penanggulangan banjir secara efektif. Dalam bagian tersebut akan dijelaskan juga tentang betapa pentingnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan setiap tahap.
A. SEBELUM BANJIR: Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat
Kesiapsiagaan dalam menghadapi banjir terdiri dari kegiatan yang memungkinkan masyarakat dan individu untuk dapat bertindak dengan cepat dan efektif ketika terjadi banjir. Hal ini membantu masyarakat dalam membentuk dan merencanakan tindakan apa saja yang perlu dilakukan ketika banjir. Kesuksesan dalam penanganan dan evakuasi/pengungsian ketika banjir sangat bergantung dari kesiapsiagaan masyarakat dan perseorangan itu sendiri. Ketika banjir terjadi semua kegiatan akan dilakukan dalam situasi gawat darurat di bawah kondisi yang kacau balau, sehingga perencanaan, koordinasi dan pelatihan dengan baik sangat dibutuhkan supaya penanganan dan evakuasi ketika banjir berlangsung dengan baik.
Beberapa tindakan kesiapsiagaan terhadap banjir adalah:
1. Membuat pertemuan untuk membahas pengalaman banjir terakhir dan melakukan perencanaan untuk menghadapi banjir yang akan datang
• Pengamatan yang jeli terhadap kesuksesan dan kegagalan pelaksanaan tindakan pada banjir terakhir sangat penting dilakukan oleh masyarakat. Hal ini dapat dibahas dalam pertemuan masyarakat, misalnya dalam pertemuan rutin di tingkat kelurahan. Waktu yang tepat untuk melakukan pertemuan ini adalah 1-2 bulan sebelum musim hujan. Dalam pertemuan ini masyarakat diharapkan dapat memberi masukan untuk merancang tindakan-tindakan yang akan dilakukan sebelum banjir. Selain itu, pertemuan ini sebaiknya membahas tentang pembagian tugas yang harus disepakati bersama sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau ada masyarakat yang tidak terlayani.
• Pada perencanaan awal, perhatian harus ditekankan pada orang-orang yang secara fisik, ekonomi, dan sosial tidak mampu, misalnya anak-anak, wanita hamil dan manula.
• Pemerintah setempat sebaiknya terlibat dalam pengamatan dan perencanaan awal untuk menyatupadukan dukungan mereka. Orang-orang pemerintahan yang terlibat seperti pemadam kebakaran, polisi, rumah sakit, dan lain-lain, diharapkan dapat memberi masukan-masukan serta melakukan koordinasi yang baik dengan masyarakat.
• Idealnya, pertemuan ini dilakukan secara teratur di tingkat RW dan kelurahan agar semua isu-isu yang terkait dalam banjir dapat dibahas dan disatukan sehingga pelaksanaan semua kegiatan kesiapsiagaan dan mitigasi banjir seperti pengumpulan sampah yang efisien, pembersihan selokan, kampanye peningkatan kesadaran, sosialisasi sistem peringatan, pengungsian, dapat dilakukan secara berkelanjutan. Jenis dan banyaknya kegiatan ini tergantung dari jumlah kelompok yang ada (guru sekolah, murid, wanita, remaja, dan lain-lain) sehingga kegiatan-kegiatan ini tidak dapat direncanakan dan dilaksanakan hanya dari sebuah pertemuan saja.
• Pertemuan masyarakat yang dilaksanakan secara teratur seperti Rapat Musrembang (Musyawarah Rencana Pembangunan) sebaiknya dimanfaatkan sebagai ajang untuk menyalurkan isu-isu banjir kepada pemerintah daerah. Koordinasi dengan dan antar institusi pemerintahan daerah, organisasi masyarakat, dinas-dinas terkait, dan LSM juga bisa dilaksanakan dalam pertemuan ini. Pembuatan kalender musim sebagai landasan pelaksanaan waktu kegiatan dapat dilakukan di dalam pertemuan ini. Kalender ini menunjukkan kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan secara bertahap pada bulan-bulan yang telah ditentukan. Masyarakat dapat memperoleh informasi tentang waktu pelaksanaan dan tugas–tugas mereka dalam penanggulangan banjir selama setahun secara berkesinambungan.
2. Pemberdayaan masyarakat
Semua sumber daya masyarakat harus disatukan dan diatur oleh organisasi masyarakat, termasuk kontribusi dari pemerintahan dan orang-orang di luar masyarakat.
• Kontribusi dari masyarakat dapat berupa tenaga kerja, waktu, ide, dan lain-lain. Sebagai contoh, masyarakat dapat mengumpulkan beras sedikit demi sedikit setiap hari dan dikumpulkan ke dalam sebuah gudang makanan. Beras ini dapat dijadikan stok makanan saat banjir. Kegiatan seperti ini masih dilakukan di desa-desa yang dikenal sebagai lumbung pangan.
• Kontribusi masyarakat dalam bentuk dana dapat dilakukan dengan menjual tiket kegiatan olahraga atau pertunjukan, pengumpulan sumbangan (terutama kepada perusahaan besar atau swasta yang beroperasi secara permanen di daerah tersebut), menyewakan fasilitas masyarakat seperti gedung pertemuan untuk kegiatan seperti perkawinan, reuni, pameran, dan lain-lain.
• Kontribusi dari luar masyarakat dapat bersumber dari lembaga donor dan perusahaan pribadi yang mendukung penanggulangan bencana dan banjir berbasis masyarakat.
• Seseorang yang dipercaya sebaiknya diangkat sebagai koordinator untuk mengatur keuangan masyarakat, dan menjelaskan pemasukan berikut pengeluaran kepada masyarakat umum secara teratur, jelas, dan transparan. Orang tersebut juga harus mempertimbangkan masukan dari masyarakat. Manajemen biaya yang baik dan transparan sangat penting untuk menciptakan kepercayaan dari masyarakat dan rasa percaya diri di dalam masyarakat dan donor.
3. Meningkatkan kesadaran dan pengertian masyarakat tentang penyebab banjir dan dampaknya
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjaga agar semua anggota masyarakat menerima informasi yang benar dan selalu siap siaga, sehingga mereka mengetahui harus berbuat apa sebelum, ketika dan setelah banjir. Beberapa minggu sebelum musim hujan adalah saat-saat yang penting, karena saat inilah masyarakat sangat tertarik untuk mempersiapkan diri menghadapi banjir. Kegiatan keagamaan dapat menjadi kesempatan yang baik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Himbauan dan pesan-pesan yang terkait dengan penanggulangan banjir dapat diselipkan melalui pesan-pesan keagamaan tersebut.
4. Promosi keterlibatan masyarakat dan pertolongan diri Sendiri
Sekurang-kurangnya satu bulan sebelum musim hujan, anggota masyarakat diminta untuk berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan pencegahan banjir, seperti kerja bakti membersihkan selokan, memperbaiki bantaran sungai, atau membangun tempat pengungsian, dan lain-lain.
• Setiap rumah tangga sebaiknya mencukupi semua kebutuhan rumah tangganya dan melakukan persiapan-persiapan awal, misalnya menyimpan dokumen-dokumen penting di tempat yang aman atau mempersiapkan ‘tas darurat’.
• Sebaiknya dilakukan pencatatan untuk mendata siapa saja yang mampu bertindak sendiri dan siapa yang tidak mampu. Pencatatan ini harus dilakukan terutama untuk mendata kelompok rentan, yaitu orang-orang yang tidak mampu mengungsi atau membutuhkan pertolongan ketika banjir (misalnya ibu hamil, anak-anak TK dan sekolah atau manula). Selanjutnya harus dipastikan agar mereka tertolong tepat waktu. Bila ada kemungkinan banjir, walaupun kecil, kelompok rentan ini harus sudah dievakuasi dengan bantuan warga setempat. Warga yang ditugaskan untuk melakukan evakuasi kelompok rentan dan tempat evakuasinya telah ditentukan terlebih dahulu.
Selain itu, sukarelawan dengan kemampuan dan pengalaman (yang terdapat dalam masyarakat) sebaiknya didata untuk membantu saat banjir. Daftar nama dan nomor telepon orang-orang tersebut harus disiapkan sebagai panduan praktis saat dibutuhkan, misalnya daftar dokter, suster, koki, supir, operator alat berat, pramuka, PMI, dan tenaga kerja lainnya.
5. Membentuk dan memperkenalkan sistem peringatan dini
• Langkah pertama dalam membentuk sistem peringatan dalam masyarakat adalah dengan menganalisa sistem peringatan yang sudah ada dan membuat perbaikanperbaikan yang dibutuhkan untuk menjamin setiap anggota masyarakat mendapatkan peringatan.
• Sistem peringatan yang diterapkan sebaiknya mengacu kepada tingkat peringatan seperti Siaga I, Siaga II, Siaga III, dan Siaga IV. Pada umumnya, Siaga VI mencerminkan situasi di mana terdapat kemungkinan terjadinya banjir. Oleh karena itu masyarakat diharapkan untuk berjaga-jaga dan mendengarkan informasi tentang banjir. Siaga I mencerminkan sebuah situasi di mana daerah tersebut telah tergenang dan tindakan-tindakan responsif terhadap banjir sedang berlangsung. Setiap tingkat peringatan ditentukan berdasarkan tanda-tanda khusus seperti tinggi air di pintu-pintu air, tinggi air sungai di daerah tersebut, jumlah air hujan yang turun di daerah-daerah tertentu. Selain itu perlu ditentukan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan oleh masyarakat dan organisasi-organisasi yang terlibat dalam penanggulangan banjir untuk setiap tingkat peringatan.
• Sistem peringatan dini dapat berupa pengeras suara dari mesjid, kentongan, memukul tiang listrik atau alat lainnya. Untuk setiap tingkat peringatan sebaiknya terdapat kode pengeras suara yang berbeda. Hal yang terpenting adalah melakukan sosialisasi sistem peringatan dan simulasi pengungsian untuk menjamin bahwa anggota masyarakat mengerti bagaimana tahap-tahap peringatan dan bagaimana harus bereaksi. Untuk setiap tahap peringatan, reaksi masyarakat harus ditentukan dengan jelas, misalnya kapan dan bagaimana masyarakat harus bersiapsiaga untuk evakuasi, kapan kelompok rentan harus mulai dievakuasi, dan kapan evakuasi masyarakat umum. Selain itu, pemilihan rute evakuasi dan tempat pengungsian harus disebarluaskan kepada masyarakat.
• Pemeliharaan terhadap sistem peringatan sangat penting agar alat tersebut dapat berfungsi dengan baik. Sebaiknya ditentukan orang yang bertanggungjawab untuk pemeliharaannya.
6. Membangun pengetahuan masyarakat dan melatih tokoh masyarakat
Pelatihan untuk masyarakat akan menambah pengetahuan dan kemampuan pesertanya untuk bertindak.
• Pelatihan khusus sebaiknya dilakukan untuk anggota masyarakat, pemimpin setempat, remaja dan pihak lain yang sekiranya dapat berperan aktif dalam operasi penyelamatan dan pencarian orang-orang hilang. Pelatihan tersebut sebaiknya dilaksanakan setiap tahun, dua bulan sebelum musim banjir mulai.
• Pelatihan untuk masyarakat yang lebih luas sebaiknya mencakup pelatihan bagaimana cara bertindak dan bantuan apa saja yang dapat dilakukan pada saat situasi darurat, bagaimana memelihara kesehatan dan kebersihan, dan bagaimana menyimpan makanan dan menyediakan makanan ketika banjir.
• Guru-guru dapat berperan aktif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat di samping bertanggung jawab untuk menjaga murid-murid. Karena itu mereka membutuhkan pelatihan khusus untuk mengajarkan anak-anak apa yang harus dilakukan ketika banjir dan bagaimana bereaksi dengan cepat dan tepat pada saat banjir mulai menggenangi daerah sekolah (pengungsian cepat, pertolongan pertama, dan lain-lain).
7. Menyiapkan tempat pengungsian
Tempat pengungsian serbaguna sebaiknya disiapkan agar warga yang berada dalam satu kelurahan dapat bertahan hidup dari banjir yang besar dan dalam waktu yang cukup lama.
• Sebuah tempat pengungsian untuk banjir idealnya harus berada di daerah yang tinggi dan berada sedekat mungkin dengan daerah yang kemungkinan besar akan tergenang untuk mempermudah masyarakat mencapai tempat pengungsian. Tempat tersebut sebaiknya terdiri dari sebuah ruang terpisah untuk penyimpanan barang-barang penting, sebuah ruangan untuk pelayanan kesehatan, untuk ibu menyusui dan bayi, dan untuk privasi bagi wanita dan remaja yang beranjak dewasa. Selain itu, tempat pengungsian harus memiliki air minum yang aman, pencahayaan yang cukup, toilet dan kamar mandi, dan dapur umum. Sampah di dalam dan di sekitar tempat pengungsian harus direncanakan dan diatur dengan baik.
• Tempat pengungsian tersebut harus diperiksa paling sedikit sekali dalam tiga bulan sekali dan dipelihara agar tetap dalam kondisi yang baik. Tempat pengungsian tersebut harus memiliki sejumlah alat-alat penting seperti alat pertolongan pertama, obat-obatan yang belum kadaluwarsa, tenaga medis yang dapat dihubungi langsung, selimut, air minum, makanan, bahan bakar dan lain-lain yang mencukupi.
• Apabila terdapat bangunan sarana umum, seperti sekolah, yang terletak di dataran yang tinggi, bangunan tersebut mungkin dapat digunakan sebagai tempat pengungsian untuk korban banjir. Apabila dibutuhkan, bangunan tersebut dapat direnovasi agar layak dijadikan tempat pengungsian banjir.
• Apabila tempat pengungsian harus dibangun secara khusus, tempat ini dapat digunakan dan disewakan untuk berbagai aktivitas sosial dan digunakan untuk kebutuhan yang berguna saat tidak terjadi banjir, misalnya untuk pameran, pertemuan masyarakat, pelatihan, dan lain-lain.
8. Mempersiapkan pengungsian
Pengungsian atau evakuasi bergantung dari perencanaan yang hati-hati dan kesiapsiagaan sebelum terjadinya banjir. Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum banjir, yaitu:
• Membuat dan menandai jalur pengungsian dan tempat-tempat pengungsian, kemudian memberikan informasi tersebut kepada masyarakat agar mereka mengetahuinya.
• Melakukan simulasi pengungsian secara teratur, misalnya sekali dalam setahun sebelum musim hujan, untuk seluruh masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat memahami jalur pengungsian yang aman dan letak tempat-tempat pengungsian.
• Membentuk dan melatih dua tim inti, yaitu tim pencarian dan penyelamatan dan tim pengungsian.
• Menyimpan dan memelihara alat bantu pencarian, penyelamatan dan pengungsian (misalnya perahu, tali, alat pengapung sederhana, dan lain-lain). Organisasi masyarakat yang bertanggungjawab dalam penanggulangan banjir sebaiknya mendata peralatan untuk menjamin pemeliharaan dan dapat digunakan dengan mudah saat banjir melanda.
• Membuat peta kerawanan dan kemampuan. Sebuah peta sebaiknya disiapkan sebelum banjir untuk mendata keluarga dan individu yang sangat rentan terhadap banjir yang memiliki kebutuhan yang tinggi untuk pengungsian. Peta ini sebaiknya menjelaskan bagaimana jalur pengungsian, lokasi pengungsian dan juga lokasi yang tidak aman untuk dilewati, misalnya lokasi di mana air tergenang cukup dalam atau lokasi di mana ada kemungkinan terkena arus listrik.
• Membuat suatu kesepakatan antara anggota masyarakat sangat penting, misalnya kapan harus meninggalkan rumah dan pergi ke tempat pengungsian, dan apa sanksinya kalau tidak mengikuti kesepakatan. Anggota masyarakat harus mengerti apa arti setiap tahapan peringatan (Siaga I, Siaga II, Siaga III, Siaga IV) dan mengerti apa yang mereka harus lakukan pada setiap tahapan, misalnya: kapan harus mempersiapkan diri untuk evakuasi, kapan harus meninggalkan rumah langsung, dan lain-lain. Dalam kesepakatan ini, kelompok rentan sangat penting untuk diungsikan pada tahap paling awal, karena mereka termasuk orang-orang yang lebih berisiko daripada yang lain karena tidak mampu bereaksi secepat orang-orang pada umumnya. Satuan tugas banjir akan mengalami kesulitan dalam pembagian makanan dan peralatan apabila ada warga masyarakat yang bersikeras tinggal di rumahnya. Hal ini dapat membahayakan anggota tim satuan tugas tersebut.
• Menunjuk koordinator yang bertanggung jawab pada daerah tertentu dan penduduk yang tinggal di daerah tersebut, misalnya penduduk yang tinggal dalam sebuah gang (10-20 orang): Tugas koordinator tersebut adalah untuk memastikan semua penduduk yang berada di bawah tanggung jawab mereka mendapatkan peringatan sedini mungkin, dapat mengungsi pada waktunya dan mendapatkan informasi dengan baik.
B. SEBELUM BANJIR: Mitigasi Banjir dengan Bantuan Masyarakat
Banjir tidak dapat sepenuhnya dihindari, namun masyarakat dapat mengurangi kemungkinan terjadinya banjir dan mengurangi dampaknya dengan melakukan tindakan-tindakan seperti:
• Membersihkan selokan, got dan sungai dari sampah dan pasir, sehingga dapat mengalirkan air keluar dari daerah perumahan dengan maksimal.
• Membuat sistem dan tempat pembuangan sampah yang efektif untuk mencegah dibuangnya sampah ke sungai atau selokan.
• Menambahkan katup pengaturan, drain, atau saluran by-pass untuk mengalirkan air keluar dari perumahan. Memperkokoh bantaran sungai dengan menanam pohon dan semak belukar, dan membuat bidang resapan di halaman rumah yang terhubung dengan saluran drainase.
• Memindahkan rumah, bangunan dan konstruksi lainnya dari dataran banjir sehingga daerah tersebut dapat dimanfaatkan oleh sungai untuk mengalirkan air yang tidak dapat ditampung dalam badan sungai saat hujan.
• Penghutanan kembali daerah tangkapan hujan sehingga air hujan dapat diserap oleh pepohonan dan semak belukar.
• Membuat daerah hijau untuk menyerap air ke dalam tanah.
• Melakukan koordinasi dengan wilayah-wilayah lain dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan-tindakan untuk menghindari banjir yang dapat juga berguna bagi masyarakat di daerah lain.
C. KETIKA BANJIR: Penanganan dan Pengungsian
Penanganan ketika banjir adalah semua tindakan yang harus segera dilakukan untuk menyelamatkan nyawa dan melindungi harta benda ketika banjir terjadi. Dalam tindakan darurat, waktu adalah faktor yang sangat penting karena waktu dapat menentukan berapa nyawa manusia atau harta benda yang dapat diselamatkan. Perencanaan yang hati-hati sebelum banjir terjadi adalah tindakan awal yang sangat penting untuk penanganan banjir pada waktu yang tepat dan efektif. Penanganan terhadap banjir dan tindakan pengungsian terdiri dari:
1. Badan koordinasi yang baik
• Mengatur komunikasi, koordinasi dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait (anggota masyarakat, institusi pemerintahan seperti kelurahan, organisasi-organisasi lain dari luar masyarakat yang mau memberikan bantuan) untuk menyatukan kemampuan, peralatan, pengetahuan, dan lain-lain.
• Mengumpulkan dan menyediakan data tentang dampak banjir dan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan bantuan dari luar masyarakat.
• Mengumpulkan informasi dan data bagi masyarakat seperti daftar orang terluka dan hilang.
2. Pencarian dan penyelamatan
Anggota tim pencarian dan penyelamatan meninggalkan rumah dan keluarga mereka etika banjir dan mampu mengambil risiko bahwa mereka akan meninggalkan keluarga mereka ang terkena dampak banjir. Oleh karena itu, anggota keluarga dari tim tersebut harus terlatih. Selain itu, sebaiknya ada seseorang yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka ketika banjir, misalnya tetangga mereka. Agar tidak membahayakan hidupnya sendiri, anggota tim harus terlatih dengan baik (renang, berperahu, kesehatan, dan lain-lain) dan melakukan simulasi secara terus menerus sebelum atau pada awal musim hujan agar mereka dapat melakukan tindakan yang tepat di saat yang tepat ketika banjir.
3. Pendataan dan tersedianya makanan darurat, tempat pengungsian, tenaga medis, dan lain – lain
Pada banjir besar yang memakan waktu yang cukup lama, kebutuhan dari setiap keluarga harus didata dan dipenuhi secara realistis. Bahan-bahan yang disediakan oleh pemerintah dan sumbangan LSM atau institusi yang menawarkan bantuan lainnya sebaiknya dibagi secara adil berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pembagian sebaiknya didasarkan pada kepentingan dan tingkat ekonomi dari anggota masyarakat. Pembagian ini sebaiknya diawasi secara terus menerus oleh lembaga pemerintahan lokal. Masyarakat yang bersikeras untuk tinggal di rumahnya harus mencari alternatif sendiri untuk memperoleh makanan. Hal ini harus terlebih dahulu disepakati bersama. Selama banjir dan bencana lainnya, di mana orang-orang meninggalkan rumah dan harta benda mereka, ada risiko terjadinya penghancuran dan perampokan. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun sebuah kelompok sukarelawan yang berasal dari anggota masyarakat untuk menjaga daerah permukiman setelah masyarakat mengungsi.
4. Melindungi daerah pemukiman
Selama banjir dan bencana lainnya, di mana orang-orang meninggalkan rumah dan harta benda mereka, ada risiko terjadinya penghancuran dan perampokan. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun sebuah kelompok sukarelawan yang berasal dari anggota masyarakat untuk menjaga daerah permukiman setelah masyarakat mengungsi.
5. Mengungsi
Prioritas utama harus diberi kepada kelompok rentan (ibu hamil, anak-anak dan manula). Peta kerentanan dan kemampuan sangat membantu untuk menandai lokasi kelompok ini ini. Peta tersebut juga membantu untuk mengetahui rute pengungsian paling dekat dan paling aman.

D. SETELAH BANJIR: Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Pemulihan)
Tujuan dari tindakan pemulihan ini adalah untuk mendukung masyarakat untuk kembali hidup normal dan membangun kembali lingkungan dan kehidupan sosial mereka. Terdapat dua tindakan yang harus dilakukan, yaitu:
• Tindakan jangka pendek dilakukan untuk mengembalikan layanan utama kepada masyarakat dan mencukupi kebutuhan pokok masyarakat;
• Tindakan jangka panjang dilakukan untuk mengembalikan kondisi masyarakat kepada kondisi normal atau bahkan lebih baik.
Masa pemulihan khususnya dalam memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk tindakan mitigasi banjir seperti memastikan bahwa rumah-rumah baru terhubung dengan sistem saluran drainase atau tidak membangun apapun pada daerah dataran banjir. Kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi apabila masyarakat tersebut mau berperan aktif dalam pemulihan karena hanya masyarakat itu sendirilah yang paling mengetahui apa yang mereka butuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan. Anggota masyarakat terlibat langsung dalam rehabilitasi dan rekonstruksi dapat juga membantu mengurangi stress, trauma, dan depresi, karena mereka tetap aktif dan bekerja untuk mencapai kondisi yang lebih baik.
Tindakan rehabilitasi dan rekonstruksi meliputi:
1. Analisis kerusakan dan kebutuhan
Peran serta masyarakat sangat penting dalam mendata kerusakan dan kebutuhan untuk menghindari terlupakannya hal-hal penting, data kerusakan dannkebutuhan tersebut harus lengkap dan jelas agar dapat disampaikan kepada organisasi, lembaga, dan institusi pemerintah yang mau memberikan bantuan.
2. Pembangunan gedung dan infrastruktur
Pembangunan kembali gedung, sarana-prasarana umum harus mengacu kepada tindakan kesiapsiagaan dan mitigasi banjir, agar dampak banjir berikutnya dapat ditekan sekecil mungkin. Sebagai contoh, pembangunan kembali rumah-rumah sebaiknya dibangun di lokasi yang lebih aman dan bukan di bantaran sungai. Pembangunan selokan yang tertutup dan pembuatan tempat sampah di lokasi yang strategis adalah salah satu tindakan mitigasi untuk memastikan sampah tidak dibuang lagi ke selokan atau sungai.
3. Melakukan pendekatan terhadap lembaga donor dan organisasi lain yang mau membantu
• Untuk mengajukan permohonan bantuan, kebutuhan masyarakat harus didata terlebih dahulu dan situasi masyarakat harus dijelaskan dengan baik.
• Bantuan dapat diperoleh dari institusi pemerintahan, lembaga donor atau dari perusahaan swasta dan perseorangan.
• Permohonan bantuan juga dapat diajukan kepada anggota masyarakat, daerah sekitar, atau perusahaan swasta. Media massa (televisi, radio, surat kabar, dan lain-lain) dapat dihubungi untuk membantu menyampaikan kebutuhan masyarakat kepada khalayak ramai di luar masyarakat.
• Perlu dipertimbangkan, bahwa lembaga donor dan organisasi lain yang memberikan bantuan memiliki kriteria dan proses yang berbeda-beda dalam pemberian jenis bantuan atau pendampingan. Organisasi-organisasi ini biasanya bekerja dengan masyarakat melalui lembaga pemerintahan, LSM atau organisasi masyarakat. Karena itu, pembentukan suatu organisasi masyarakat sangat penting. Organisasi ini diharapkan bisa melakukan pendekatan kepada lembaga donor, mengumpulkan prasyarat atau menjalankan prosedur awal yang dibutuhkan, dan mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mendapatkan bantuan. Proposal harus dibuat secara sistematis, mudah dimengerti dan memiliki informasi yang cukup sebagai dasar pertimbangan. Selain itu, sebaiknya organisasi masyarakat tersebut memiliki tokoh yang mampu menjelaskan kepada calon pemberi bantuan tentang proposal tersebut. Setelah pemberian proposal, tokoh tersebut sebaiknya memastikan adanya tindak lanjut dari proposal tersebut.

4. Kerjasama dengan media massa
Media massa dapat membantu masyarakat yang terkena banjir untuk menyebarkan informasi tentang pengalaman, kondisi dan kebutuhan mereka kepada khalayak ramai dan meminta bantuan untuk pembangunan kembali. Kesempatan ini sebaiknya dimanfaatkan oleh masyarakat dengan menjelaskan sebaik-baiknya tentang situasi dan kebutuhan mereka. Masyarakat sebaiknya menunjuk seorang juru bicara untuk mewakili masyarakat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh wartawan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Beberapa faktor penyebab banjir di Jakarta dan sekitarnya lebih disebabkan oleh kegiatan manusia, antara lain:
• Pembangunan perumahan dan komersil di sekitar bantaran sungai menyebabkan aliran sungai dan kanal terhambat misalnya oleh bangunan-bangunan seperti jembatan atau pipa;
• Cara pengangkutan dan pengelolaan sampah yang kurang tepat, dan kebiasaan orang membuang sampah sembarangan menyebabkan penimbunan sampah di sungai-sungai;
• Tidak tertatanya saluran drainase yang berfungsi untuk menyalurkan air hujan dan mengalirkannya keluar daerah hunian;
• Kurangnya lahan hijau untuk menyerap air hujan dan penebangan hutan di Bogor dan Puncak yang merusak daerah tangkapan hujan.
2. Apabila banjir terjadi, maka dampak yang timbul akibat banjir yaitu:
• Dampak fisik adalah kerusakan pada sarana-sarana umum, kantor-kantor pelayanan publik yang disebabkan oleh banjir.
• Dampak sosial mencakup kematian, risiko kesehatan, trauma mental, menurunnya perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-anak tidak dapat pergi ke sekolah), terganggunya aktivitas kantor pelayanan publik, kekurangan makanan, energi, air , dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya.
• Dampak ekonomi mencakup kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi (orang tidak dapat pergi kerja, terlambat bekerja, atau transportasi komoditas terhambat, dan lain-lain).
• Dampak lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan pencemar yang dibawa oleh banjir) atau tumbuhan disekitar sungai yang rusak akibat terbawa banjir.
3. Tindakan cepat dan terkoordinasi (yang telah direncanakan secara berhati-hati sebelumnya) ditambah dengan pengetahuan yang baik tentang masyarakat dan lingkungan adalah hal terpenting dalam mengurangi dampak banjir pada masyarakat, harta benda dan lingkungan.
4. Penanggulangan banjir tentu saja membutuhkan partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat harus dilakukan secara terorganisasi dan terkoordinasi agar dapat terlaksana secara efektif. Sebuah organisasi masyarakat sebaiknya dibentuk untuk mengambil tindakan-tindakan awal dan mengatur peran serta masyarakat dalam penanggulangan banjir. Penanggulangan banjir dilakukan secara bertahap, dari pencegahan sebelum banjir penanganan saat banjir , dan pemulihan setelah banjir. Tahapan tersebut berada dalam suatu siklus kegiatan penanggulangan banjir yang berkesinambungan, Kegiatan penanggulangan banjir mengikuti suatu siklus (life cycle), yang dimulai dari banjir, kemudian mengkajinya sebagai masukan untuk pencegahan sebelum bencana banjir terjadi kembali. Pencegahan dilakukan secara menyeluruh, berupa kegiatan fisik seperti pembangunan pengendali banjir di wilayah sungai sampai wilayah dataran banjir dan kegiatan non-fisik seperti pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini bencana banjir
B. Kritik dan Saran
Berdasarkan temuan lapangan di wilayah banjir oleh BAPPENAS menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat lebih didorong oleh semangat kesetiakawanan dalam bermasyarakat, bukan merupakan resultant upaya pemerintah untuk menggalangnya. Mencermati partisipasi masyarakat pada tahap siklus banjir, ternyata tidak dapat disamaratakan. Pada tahap tertentu partisipasinya sangat besar dan begitu dominan. Sementara pada tahap lain sulit ditemukan, bahkan tidak ada. Perlu dianalisis lebih jauh untuk menemukenali jenis dan tingkat partisipasi masyarakat pada kelompok-kelompok kegiatan penanggulangan banjir.
Dari kejadian banjir dapat diambil pelajaran antara lain :
PELAJARAN PERTAMA – KESIAPAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAH. Masyarakat, Pemerintah Daerah dan Pemerintahan Pusat hanya terfokus dalam kesiapan terhadap banjir rutin tetapi tidak untuk banjir yang berpotensi besar.
PELAJARAN KEDUA – KOORDINASI. Musibah banjir yang lalu memberi pelajaran kepada kita bahwa koordinasi bukan sesuatu yang mudah. Koordinasi tidak dapat diciptakan secara tiba-tiba atau instan seperti kita membuat supermi. Koordinasi rupanya sangat dipengaruhi oleh kedekatan kita satu sama lain. Kedekatan itu tentu saja harus dibina dalam keseharian kita – dalam kehidupan kita selagi tidak ada musibah!
PELAJARAN KETIGA – HUBUNGAN ANTAR-MASYARAKAT. Terjadinya hubungan yang tidak saling mengenal antara masyarakat, pemerintah maupun swasta. Beberapa bahkan saling curiga. Hal ini tentu tidak akan terjadi apabila kita telah membina hubungan di antara kita – dalam keseharian kita. Hubungan pribadi yang akrab, yang tulus, yang tidak dicemari rasa curiga, akan membawa kita kepada kesatuan geraklangkah. Itu tentu akan memuluskan koordinasi dalam segala upaya kerjasama kita.
PELAJARAN KEEMPAT – SUMBER DAYA. Ini memang sangat berkait dengan kesiapan kita. Karena kita mengira bahwa banjir yang akan muncul adalah “banjir biasa”, maka persiapan sumber daya kita terkesan kurang (walaupun kita merasa sudah benar-benar siap). Perlu kerjasama sejumlah sarana kesehatan di wilayah yang tidak terkena banjir dengan wilayah bencana. Tenaga kesehatan yang dapat bergerak cepat ternyata menjadi sangat penting. Dalam hal ini keberadaan Brigade Siaga Bencana sungguh sangat membantu. Pada saat banjir melanda, sarana penjernih air yang praktis seperti PAC dan Aquatab sungguh sangat membantu. Pada periode pasca banjir, kegiatan lisolisasi dan kaporitisasi sangat membantu menciptakan lingkungan yang sehat. Untuk itu, persediaan lisol dan kaporit seharusnya kita siapkan dalam jumlah yang mencukupi. Demikian pula tenaga ahli dan peralatan yang diperlukan. Kesemuanya itu ternyata menuntut adanya alokasi dana khusus yang jumlahnya memadai, proses pencairannya tidak memakan waktu lama, dan prosedur penggunaannya tidak berbelit-belit.
PELAJARAN KELIMA – ANTISIPASI MASALAH. Mungkin kita perlu lebih serius mengupas dampak kesehatan dari bencana banjir. Dengan begitu kita jadi mengetahui masalah apa saja yang bakal atau mungkin muncul.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar